Peran Strategis Sektor Publik Indonesia oleh M. Sohibul Iman, Ph.D #NLC2

Sektor pemerintah (public)

Sektor Swasta

Sektor Ketiga (NGO dan Media)

Dahulu public sector adalah sector yang dipandang namun pada 80 tahun lalu keatas pindah ke private sector, gaji kecil kantor kecil tapi efeknya besar. (ICW) Indonesia Corruption Watch

 

Public Sektor tak akan merekrut :

  1. Negara, public sector punya wewenang dari pada sector yang lain
  2. Peran khas yang ga bisa di mainkan oleh yang lain seperti tentang keadilan
  3. Memiliki ruh untuk membuat aturan
  4. Public Sektor itu strategis

Kewenangan akan berjalan baik pada orang yang benar juga di dalamnya dan harus berkompeten. Integritas. Oleh karena itu banyak di isi orang – orang yang berkapasitas inovasi dan intelektualitas, bsia juga dengan intrapreneur.

 

Lalu persidangannya harus lebih baik, humanis, melayani, public servant.

Bikin KTP 70 orang di jepang waktunya 2 jam sedangkan di Indonesia sampai dengan berbulan bulan.

 

Singapura, pemimpinnya lihat kalau demografisnya adalah perdagangan maka orang – orang terbaik di singapura di jadika pegawai negeri (birokrasi) maka para pedagang asing menggunakan jasa Singapura. Dan mereka membangkitkan entrepreneur domestic agar menjadi Negara berhasil, berjumlah 7 persen orang atau penduduk disana sudah menjadi entrepreneur, kenapa Indonesia tidak? Karena birokrasi, karena melihat ada took rame langsung bayar pajak tunggu terus berkembang hingga 5 tahun barulah bayar pajak. Publik Sektor membuat regulasi yang baik untuk private dan sector ketiga.

 

Prihatin lihat birokrasi Negara kita saat beliau jadi rector, pendapat pednapat rancangan undang – undang menanam modal layak pelaut tua. Pada asing, jadi mereka menyerahkan seluas – luasnya pada orang asing untuk bisa berinvestasi. Tapi ga ada yang mau, kalau cina seperti pelacur muda yang ga semua sector di ambil.

 

Kaidah umum, take and give, tinggal sekarang apa yang kita transaksikan ga bisa di politisi oleh Negarawan kalau mau menang sendiri. Sehingga ia member apa yang dapetnya juga apa. Problem di kota yang di transasksikan nadalah materi dan menyebabkan high cost, seperti kita membuat UUD. Itu adalah cairan dari semua fraksi. Disana yang di transaksikan adalah ide. Yang jadi problem take and givenya dengan anggaran uang. Yang punya duit rakyat kembalikanlah pada rakyat yang beginini yang kita kembangkan.

 

Nepotisme adalah ketika satu keluarga pemerintah lalu yang melanjutkannya adalah keturunannya. Menggunakan amanah dengan sebaik – baiknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s